Tukar Mata Uang Asing

Situs ini diterbitkan dengan tujuan mengkomunikasikan keberadaan Jurusan Antropologi FISIP Universitas Andalas, sekaligus memberikan informasi-informasi terbaru (up to date) kepada para mahasiswa dan alumni. Situs ini menerima sumbangan informasi mengenai lowongan kerja bagi para lulusan Antropologi dari para alumni yang telah bekerja di berbagai instansi/lembaga dan berupa kritik/saran demi perbaikan situs ini. Semua informasi diharapkan dapat ditulis di ruang diskusi dan atau diemailkan di Jurnal_laborantrop@yahoo.co.id.

Senin, 01 Desember 2008

MEMOAR PROF. IMRAN MANAN

(07 Januari 1931 – 19 November 2008)

Yunarti - Sidarta Pujiraharjo - Yulkardi

(Catatan Yang Tertinggal Menyambut Purna-Bhakti Prof. DR. Imran Manan.MA.MA)

Prof. Dr. Imran Manan. MA.MA lahir di Padang Ganting 7 Januari 1931, adalah bungsu satu-satunya laki-laki dari 3 orang bersaudara. Sejak kecil telah menunjukkan minat yang kuat untuk belajar yang mendapat dukungan dari ibunda Malat serta ayahanda beliau Abdul Manan yang pada waktu itu seorang Mantri Pertanian di Lambau. Menikah dengan gadis Dra. Fatimah Enar yang dulunya teman kuliah, beliau berdua dikaruniakan 2 orang putra dan 1 orang putri : Drs. Arfi Imran yang kini bekerja diperusahaan Asing Schlumberger di Jakarta, Desy Natalia Imran. PHD dari Universitas di London Inggris bekerja sebagai dosen tetap di ITB Bandung dan putra bungsu beliau Arif Imran kandidat PHD pada University of Kent yang saat ini tengah menyelesaikan pendidikannya di Inggris. Saat ini beliau berdua adalah sepasang kakek dan nenek dari beberapa orang cucu. Sebuah kehidupan yang lengkap.

Memulai pendidikan dasar di kota Batusangkar, Imran muda tabah dan tidak manja walau harus tinggal bersama famili dan berpisah dengan orang tua. Jenjang pendidikan berikutnya dilalui diberbagai tempat dalam rentang waktu panjang sejak 1950-an hingga 1990-an yang membutuhkan stamina dan konsistensi tinggi terhadap semangat untuk terus belajar memahami hal-hal yang baru. Imran muda memulainya dari Sekolah Rakyat di Batu Sangkar ke FKIP – Universitas Andalas hingga University of California di Barkeley, University of Illinois di Urbana hingga Ohio State of University di Benua Amerika. Pencarian itu mengembara jauh ke dalam ceruk-ceruk pemikiran ekonomi, perilaku manusia, perspektif humanity dalam antropologi, yang telah membentuk dan mematangkan karakter dan kadar intelektualitasnya. Dalam lokalitasnya yang paling genuine sebagai seorang Minangkabau, beliau sekaligus tengah menjadi sebuah pribadi universal, menjalin kerjasama dan pemahaman dengan counterpart asing dan terus mengembangkan cakrawala wawasannya tentang keberadaan manusia dan dunia....dipusat-pusat peradaban dunia.

Semua rangkaian kehidupan tidaklah dilalui tanpa halangan; berbagai peristiwa menyertai semua periode pendidikannya:....wafatnya sang Ayahanda pada saat penyelesaian Sekolah Menengah Ekonomi tingkat Atas di Medan, hingga masa-masa sulit kelabu sebagai tentara dimasa pergolakan PRRI diawal pendidikan tinggi ..., berpisah dengan istri dan anak-anak dalam jangka waktu yang tidak singkat secara tekhnis tidak pernah menyurutkan kesukacitaannya dalam belajar, tidak sedikitpun juga pernah meragukan bahwa hasil yang baik hanya dapat lahir dari rahim kerja keras.

Diantara semua masa-masa pendidikan itu, Imran muda mulai mengisinya dengan kerja dan pengabdian sebagai guru honorer, ikut membidani beberapa sekolah lanjutan tingkat atas di Padang dan menyaksikan berdirinya IKIP sebagai institusi pendidikan mandiri. Dikemudian hari, Prof. Imran menjadi bagian penting dari Institusi ini menapak pengabdian dan kerja sebagai asisten dosen, dosen tetap, Pembantu Dekan II, Dekan, Pembantu Rektor I dan II hingga Direktur Pascasarjana IKIP Padang dengan ritme yang konsisten, dedikasi yang penuh dan profesionalitas lugas atas dasar kompetensi yang dimiliki....., kesemuanya itu bukanlah jenjang karir yang direncanakan, tak pernah merasa harus mendiktekan keadaan, yang beliau lakukan adalah mencurahkan perhatian atas setiap tahapan amanah, menyelesaikan setiap kerja sebaik yang bisa dilakukan dan setelah itu membiarkan hidup mengalir ...... panta rei. Beliau melakoni itu semua sembari terus menulis, meneliti dan berbicara diberbagai seminar lokal, regional, nasional dan Internasional sejak tahun 62 hingga masa purna bhakti beliau tiba.

Tahun 1984, adalah moment penting saat beliau secara resmi diminta ikut bergabung mengelola jurusan sosiologi dengan program studi antropologi yang saat itu masih bernaung di Fakultas Sastra. Banyak memori yang masih diingat oleh mantan murid dan kolega-kolega beliau; performa beliau yang sederhana, casual dengan kemeja lengan pendek, celana pantalon, sepatu sandal, kaca mata berbingkai tebal dengan rokok yang hampir selalu ada ditangan….figur yang terkesan hati-hati dan sedikit dalam berbicara karena bagi beliau bicara adalah apa yang dikerjakan. Semua hal yang tampak luar itu mengiringi etos kerja, disiplin waktu dan antusiasme yang ditunjukkan dalam mengasuh jurusan ini. Meski secara formal struktural beliau mengakhiri pengabdian di jurusan ini tahun 1998, namun spirit dan kepedulian beliau terhadap institusi ini tidaklah susut. Dari kejauhan beliau diam-diam tetap menyaksikan, memastikan bahwa si-anak asuh Antropologi Fisip Universitas Andalas meski tertatih, telah mencoba berjalan mantap diatas kaki mudanya yang masih goyah....

Prof. Imran Manan sangat menyadari, masih banyak kerja yang tersisa..., masih ada gagasan yang tertinggal belum selesai....., menyaksikan masih banyak kegagalan kita dalam memahami realitas sosial yang berujung pada kegagalan dalam membuat kebijakan. Meskipun peristiwa-peristiwa yang membesarkan hati dan menciutkan nyali terus berganti mengisi panggung kehidupan bermasyarakat, beliau meyakinkan akan adanya harapan akan munculnya intelektual muda bernas yang mekar berakar dari bumi dimana dia disemai-tumbuhkan....,yang akan mengejawantah-ulang gagasan tentang “ alam yang takambang jadikan guru”...sebuah semangat yang peka pada perubahan zaman tanpa tercerabut dari akarnya....memaknai kembali romantisme kearifan masa lalu yang dihadirkan dengan re-interpretasi kekinian....sebuah idealisme yang menurut beliau akan menahan kita dari tergelincir jatuh dalam arus pragmatisme keliru yang dangkal dan sesaat.

Menyambut masa purna bhaktinya yang telah tiba, Prof. Imran Manan merasa lega dan lapang.....bukan kelapangan yang berpuas diri tapi kelapangan yang mengalir dari rasa penuh dan pasti bahwa semua kemampuan telah diupayakan, semua daya telah diberikan...hutang dan kewajiban telah ditunaikan......sembari menyadari KESEMPURNAAN HANYALAH MILIK SANG KHALIK.

….SELAMAT JALAN PAK IM,…..

Komunitas Antropologi

FISIP – Universitas Andalas

Tidak ada komentar:

Gratis Download Software

Ada kesalahan di dalam gadget ini